Rabu, 26 Agustus 2009

TIPS MERAIH KEBAHAGIAAN DI BULAN RAMADHAN

Bulan Ramadhan merupakan bulan yang sangat dinantikan kedatangannya. Mengapa begitu? Karena di dalamnya banyak sekali berisi kebaikan. Di dalamnya banyak sekali kesempatan bagi kita untuk memperoleh pahala.

Dalam posting kali ini saya ingin berbagi tentang "Tips Meraih Kebahagiaan di Bulan Ramadhan"
  1. Dalam menjalankan sesuatu selalu diiringi dengan niat untuk beribadah dan lakukanlah dengan penuh keikhlasan. Seorang istri ketika hendak memasak ataupun melakukan tugas-tugas rumah tangga, niatkanlah untuk ibadah agar anda tidak hanya mendapatkan rasa lelah saja, namun pahala yang sangat besar insya Allah akan dapat anda raih. Tentunya merupakan kebahagiaan tersendiri jika melihat anggota keluarga : suami dan anak-anak begitu lahapnya menyantap hidangan berbuka puasa yang anda sajikan. Bagi suami dan anak-anak, jika tidak menyukai masakan sang istri/ibu janganlah mudah mencela (tidak enaklah, kurang asinlah dan lain-lain). Kalau memang tidak suka nggak usah disantap, makan saja yang anda sukai. Hal itu akan berakibat lebih baik. Ibu / istri menjadi tidak sakit hati karenanya. Acara berkumpul seperti ini bisa menumbuhsuburkan rasa cinta diantara sesama anggota keluarga.

  2. Usahakan sebisa mungkin ketika acara berbuka puasa, semua anggota keluarga bisa berbuka puasa bersama. Kebersamaan seperti ini akan menumbuhkan perasaan bahagia. Apalagi jika suami / istri termasuk orang-orang yang super sibuk. Sesibuk apapun anda, usahakan berkumpul bersama keluarga ketika buka puasa tiba.

    O ya ada tuntunan dari Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam tentang buka puasa. Rasulullah bersabda : "Tetap manusia itu dalam kebaikan selama mereka menyegerakan berbuka." (Muttafaqun 'alaih). Jadi ketika waktu berbuka puasa tiba, segeralah berbuka. Jangan shalat maghrib dahulu baru berbuka. Berbukalah dahulu meskipun hanya dengan seteguk air putih.

  3. Bagi suami yang mempunyai kebiasaan merokok, segeralah hentikan kebiasaan buruk tersebut. Saya yakin anda pasti tahu akan bahaya merokok. Bahkan saya yakin, para kyai ataupun pejabat yang merokok juga menyadari akan bahayanya racun yang terkandung di dalam rokok tersebut. Namun mayoritas mereka hanya menurutkan hawa nafsu saja. Nafsu untuk menghisap rokok sangatlah besar, sampai-sampai mengalahkan akal sehatnya. Bahaya merokok tidak hanya untuk si perokok saja, tetapi bahaya juga bagi anak-anak anda, istri dan orang-orang di sekitar anda. Nah di bulan suci ini merupakan momen yang sangat tepat bagi para perokok untuk menghentikan kebiasaan merokoknya. Bukankah di bulan suci ini kita diperintahkan untuk mampu mengendalikan hawa nafsu...termasuk NAFSU UNTUK MEROKOK! KEbahagiaan akan semakin terasa jika seluruh anggota keluarga dalam keadaan sehat, tidak teracuni oleh asap rokok.

  4. Shalat Tarawih secara berjamaah di masjid bagi Bapak/Suami dan anak-anak laki-laki. Bagi Ibu/istri dan anak-anak perempuan bisa melakukannya di rumah. Aktivitas beribadah di bulan Ramadhan bisa membangkitkan religiusitas dalam kehidupan rumah tangga. Kehidupan rumah tangga yang di bulan-bulan lain mungkin terasa hambar karena sedikit sekali sentuhan agama yang kita dapatkan. Ruh kita tentu sangat haus akan nilai-nilai religius. dalam bulan yang penuh berkah ini tentu akan sangat membahagiakan jika kita bisa menghadirkan suasana agamis di dalam rumah tangga kita. Dan kita tentunya berharap, di bulan-bulan setelah ramadhan kali ini, nilai-nilai religiusitas di dlam rumah tangga kita akan terbina dengan semakin baik.

  5. Usahakanlah makan sahur, karena banyak sekali manfaatnya bagi kita. Dalam permasalahan sahur ini Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda : "Bersahurlah karena dalam sahur itu terdapat keberkahan." (HR. Bukhari-Muslim). Dibawakan oleh Amru bin Ash r.a. bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda : "Beda antara puasa kami dengan puasa ahli kitab, ialah makan sahur." (HR. Muslim, Abu Dawud dan yang lainnya).

    Apa sih keutamaan sahur itu ? Adapun keutamaan sahur antara lain :
    • Adanya barakah dalam sahur
      Dari Abu Hurairah radliyallahu 'anhu bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda : "Sesungguhnya Allah menjadikan keberkahan dalam sahur dan literan." (HR. Syairazi dan Al-Khatib; lihat Shahih Al-Jami' Ash-Shaghir hadits no. 1731).

    • Allah dan para malikat-Nya bershalawat pada orang yang makan sahur. Dari Abu Sa'id Al-Khudri radliyallahu 'anhu berkata : Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda : "Makan sahur seluruhnya berkah, janganlah kalian meninggalkannya meskipun hanya minum seteguk air, karena Allah dan para Malaikat-Nya bershalawat kepada orang-orang yang bersahur." (HR. Ahmad dan dihasankan oleh Syaikh Al-Albani dalam Shahih Al-Jami' Ash-Shaghir hadits no. 3683).

    Itulah manfaat dari sahur yang kita lakukan. Kebahagiaan apalagi yang bisa kita dapatkan selain bisa mengikuti sunnah Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam. Selain kebaikan di dunia tentu kita akan mendapatkan kebaikan di kaherat kelak.
Semoga ke 5 Tips di atas bisa mewujudkan kebahagiaan bagi anda semua di bulan suci ini.

Wallahu a'lam bish-shawab.

Senin, 24 Agustus 2009

MEREKA MENGIRA BISA MENGGAPAI KEBAHAGIAAN DENGAN MERAIH SURGA MEREKA MENGIRA TELAH BERBUAT KEBAJIKAN DENGAN JIHAD

Beberapa waktu yang lalu Indonesia kembali diguncang dengan adanya bom. Tepatnya Jum'at, 17 Juli 2009, dua buah bom meledak di Restoran Erlangga Lt. 1 Hotel Rizt Carlton dan Lobby Hotel JW Marriott di kawasan Mega Kuningan. Masih teringat dengan jelas di tempat yang sama yakni di Hotel JW Marriott pada 5 Agustus 2003 juga pernah terjadi peledakan bom. Sungguh sangat menyedihkan.

Para pelaku bom tersebut menganggap perbuatannya adalah suatu kebajikan atas nama jihad. Mereka mengira telah berbuat kebajikan dengan berjihad dan mereka berharap atau malah sangat yakin akan beroleh surga karena telah berjihad. Apakah benar demikian???

Di sini saya ingin menyampaikan sedikit nasehat, nasehat bagi diri saya sendiri dan untuk kaum muslimin semuanya. Nasehat dari seorang yang masih mempunyai rasa cinta kepada saudaranya sesama muslim. Mari kita telaah bersama dengan ilmu, peristiwa pengeboman yang terjadi di sana-sini. Pengeboman yang berujung duka. Mereka menginginkan orang-orang non muslim yang menjadi korban, namun tidak sedikit korbannya adalah orang-orang muslim yang tidak berdosa.

Tahukah anda wahai saudaraku, bahwa membunuh jiwa seorang mukmin adalah bagian dari perbuatan keji (Al-Fuhsy)? Allah Subhanahu wa Ta'ala telah berfirman : "Dan barangsiapa yang membunuh seorang mukmin dengan sengaja maka balasannya adalah Jahannam, dia kekal di dalamnya. Allah marah kepadanya sekaligus melaknatnya, dan Allah menyiapkan adzab yang besar baginya." (QS. An-Nisa' : 93)

Sesungguhnya tidak hanya membunuh jiwa seorang mukmin yang diancam dengan ancaman yang mengerikan, namun membunuh seorang kafir dzimmi atau kafir mu'ahad juga diancam dengan ancaman yang mengerikan pula.

Coba simak hadits berikut ini saudaraku...Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda : "Barangsiapa yang membunuh seorang kafir mu'ahad maka dia tidak akan dapat mencium aroma harum Al-Jannah. Sesungguhnya aroma harum Al-Jannah tersebut terciun dari perjalanan 40 tahun." (HR. Bukhari).

Rasullullah
shallallahu 'alaihi wa sallam juga bersabda : "Barangsiapa yang membunuh seorang kafir dzimmi, maka dia tidak akan dapat mencium aroma Al-Jannah. Sesungguhnya aroma harum Al-Jannah tercium dari perjalanan sekian dan sekian." (HR. Al-Hakim).

Dalam hadits yang lain Rasulullah
shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda : "Tidaklah seorang hamba membunuh seorang kafir mu'ahad kecuali Allah haramkan atasnya Al-Jannah dan (haram atasnya) untuk mencium aroma harumnya." (HR. Al-Hakim).

Sekarang saya akan sebutkan definisi dari kafir dzimmi dan kafir mu'ahad. Kafir dzimmi adalah seorang kafir dari kalangan ahlul kitab yang berlaku baginya ikatan pembayaran jizyah (upeti). Sedangkan kafir mu'ahad dari satu sisi juga tergolong kafir dzimmi, disebabkan adanya ikatan jaminan dzimmah (jaminan perlindungan) dari kaum muslimin dan masih dalam keterikatan dengan perjanjian tersebut. Baik ikatan perjanjian pembayaran jizyah ataupun ikatan genjatan senjata (perdamaian) atau adanya jaminan keamanan dari seorang pribadi muslim untuknya.

Dari penjelasan di atas yakni berdasarkan firman Allah dan hadits Rasulullah di atas jelaslah bahwa membunuh jiwa seorang mukmin mendapat ancaman yang sangat keras yakni pelakunya akan dimasukkan ke dalam jahannam dan kekal di dalamnya. Demikian pula membunuh jiwa seorang kafir dzmmi ataupun kafir mu'ahad, pelakunya diancam dengan ancaman tidak akan dapat mencium aroma harum Al-Jannah (surga). Bayangkan...mencium aromanya saja tidak bisa apatah lagi masuk ke dalamnya sebagaimana anagn-angan mereka???

Saudaraku...para pelaku bom bunuh diri tersebut ternyata telah berangan-angan melakukan suatu kebajikan dengan anggapan telah berjihad dan mereka juga sudah berangan-angan akan memasuki surganya Allah yang penuh kenikmatan.

Yang pasti... "MEREKA PARA TERORIS ITU TELAH MENGGAPAI KESEDIHAN DENGAN MERAIH JAHANNAM DAN MEREKA TELAH BERBUAT KERUSAKAN DENGAN MELAKUKAN PENGEBOMAN"

Kebenaran hanya datang dari Allah Subhanahu wa Ta'ala dan Rasul-Nya shallallahu 'alaihi wa sallam. Dan ilmu itu adalah di atas hujjah dari Al-Qur'an dan As Sunnah yang shahihah.

Wallahu a'lam bish-shawab.

Sabtu, 22 Agustus 2009

PUASA TIDAK HANYA SEKEDAR MENAHAN MAKAN DAN MINUM

Bismillahirrahmaanirrahiim

Ibadah puasa memiliki kedudukan yang istimewa di sisi Allah Subhanahu wa Ta'ala. Allah Subhanahu wa Ta'ala akan memberikan pahala yang berlipat ganda sesuai kualitas puasa yang dilakukan seorang hamba. Puasa juga merupakan ibadah yang sangat dicintai Allah Subhanahu wa Ta'ala. Disebutkan dalam sebuah hadits dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda : "Setiap amalan anak Adam akan dilipatgandakan pahalanya, satu kebaikan akan berlipat menjadi 10 kebaikan sampai 700 kali lipat. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman : 'Kecuali puasa, maka Aku yang akan membalas orang yang menjalankannya karena dia telah meninggalkan keinginan-keinginan hawa nafsunya dan makannya karena Aku'." (Shahih, HR. Muslim).

Hadits di atas menunjukkan dengan jelas betapa tingginya nilai puasa. Allah Subhanahu wa Ta'ala akan melipatgandakan pahalanya bukan hanya sekedar 10 atau 700 kali lipat namun akan Allah Subhanahu wa Ta'ala balas sesuai dengan keinginan-Nya. Kita tahu bahwa Allah Subhanahu wa Ta'ala adalah Maha Pemurah, tentunya kita akan mendapatkan pahala yang berlipat ganda jika kita menjalankan puasa sesuai dengan tuntunan-Nya.

Perlu digarisbawahi bahwa menjalankan ibadah puasa bukanlah sekedar menahan diri dari makan, minum, merokok, dan hal-hal lainnya yang membatalkan puasa. Orang yang berpuasa harus pula menjaga lisan dan anggota badan lainnya dari segala yang diharamkan oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala. Namun bukan berarti ketika seseorang sedang tidak berpuasa boleh melakukan hal-hal yang diharamkan tersebut.

Yang dimaksudkan di sini adalah bahwa perbuatan maksiat itu lebih berat ancamannya bila dilakukan pada bulan puasa / ramadhan ini. Bisa jadi seseorang yang berpuasa itu tidak mendapatkan faedah apa-apa dari puasanya kecuali hanya merasakan haus dan lapar. Na'udzubillahi min dzalik.

Untuk itu ada beberapa hal yang perlu diperhatikan oleh orang yang berpuasa agar mendapatkan pahala dan keutamaan-keutamaan yang telah Allah Subhanahu wa Ta'ala janjikan. Diantaranya :
  1. Ibadah puasa harus dibangun di atas iman kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala dalam rangka mengharapkan ridha-Nya, bukan karena ingin dipuji atau sekedar ikut-ikutan keluarganya atau masyarakatnya yang sedang berpuasa. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda : "Barangsiapa yang berpuasa Ramadhan karena iman dan mengharap pahala dari Allah Subhanahu wa Ta'ala, akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu." (Muttafaqun 'alaih).

  2. Menjaga anggota badannya dari hal-hal yang diharamkan Allah Subhanahu wa Ta'ala, seperti menjaga lisannya dari dusta, ghibah, dan lain-lain. Begitu juga menjaga matanya dari hal-hal yang Allah Subhanahu wa Ta'ala haramkan untuk melihatnya. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Barangsiapa yang tidak meninggalkan perkataan dusta dan perbuatannya, maka Allah Subhanahu wa Ta'ala tidak peduli dia meninggalkan makan dan minumnya." (Shahih, HR. Bukhari).

    Kita tentu pernah mendengar istilah Lidah Memang Tidak Bertulang. Dalam Surat Al-Ahzab Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman: "Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kalian kepada Allah dan katakanlah perkataan yang benar." Dalam hal ini Allah Subhanahu wa Ta'ala memerintahkan kita untuk selalu berkata yang benar, bukan berkata dusta dan kebohongan. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam juga bersabda: "Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir maka hendaklah ia berkata yang baik atau diam." (HR. Bukhari dan Muslim). Jadi karena lidah memang tidak bertulang kita mesti hati-hati menjaganya, agar yang keluar dari lisan kita adalah perkataan yang baik-baik dan kalau kita tidak bisa berkata yang baik maka lebih baik kita diam.

    Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Sesungguhnya seorang hamba berbicara dengan satu kalimat yang dibenci oleh Allah yang dia tidak merenungi (akibatnya), maka dia terjatuh ke dalam neraka jahannam." (Shahih, HR. Bukhari).


    Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam juga bersabda: "Sesungguhnya seorang hamba apabila berbicara dengan satu kalimat yang tidak benar, hal itu menggelincirkan dia ke dalam neraka yang lebih jauh antara timur dan barat." (Shahih, HR. Bukhari dan Muslim).

  3. Bersabar untuk menahan diri dan tidak membalas kejelekan yang ditujukan kepadanya. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda dalam hadits Abu Hurairah: "Puasa adalah tameng, maka apabila salah seorang dari kalian sedang berpuasa janganlah dia berkata kotor dan janganlah bertengkar dengan mengangkat suara. Jika dia dicela dan disakiti maka katakanlah saya sedang berpuasa." (Shahih, HR. Muslim).
Sesungguhnya puasa itu akan melatih dan mendorong seorang muslim untuk berakhlak mulia serta melatih dirinya menjadi sosok yang terbiasa menjalankan ketaatan kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala. Namun hasil yang demikian tidak akan didapat kecuali dengan menjaga puasanya dari hal-hal yang sudah saya sebutkan di atas.



Kita memohon kepada Allah
Subhanahu wa Ta'ala agar senantiasa dimudahkan dalam menjaga lisan-lisan kita, supaya apa yang keluar dari lisan kita hanyalah perkataan yang baik dan bermanfaat, bukan perkataan dusta dan sia-sia. Amin. Tentunya harapan kita adalah mendapatkan pahala yang berlimpah dari ibadah puasa yang kita jalankan, bukannya hanya mendapatkan lapar dan dahaga saja.

Wallahu a'lam bish-shawab.