Kebahagiaan??Begitu banyak orang mengartikan kebahagiaan dari sudut pandang masing-masing. Namun pada intinya bahagia adalah merupakan perasaan yang muncul ketika seseorang mendapatkan sesuatu yang sesuai dengan keinginan jiwanya.
Seringkali kita mendengar ungkapan atau kata-kata "kebahagiaan di dunia dan di akherat". Yah semua orang yang beriman tentu ingin mendapatkan kebahagiaan di dunia dan di akherat. Kebahagiaan di dunia seringkali identik dengan banyaknya harta benda, kedudukan sosial yang tinggi, pangkat atau jabatan yang tinggi. Namun apakah seperti itu yang dinamakan kebahagiaan sejati?
Syeikh Abdurrahman As Sa'dy mengatakan dalam mukadimah risalah Al Wasailul Mufiidah lil hayati As Sa'idah: "Sesungguhnya ketenangan dan ketentraman hati, serta hilangnya kegundahgulanaan darinya itulah yang dicari oleh setiap orang. Karena dengan dasar itulah akan didapati kehidupan yang baik dan kebahagiaan yang hakiki."
"Allah memberitahukan dan menjanjikan kepada siapa saja yang menghimpun antara iman dan amal shaleh dengan kehidupan yang bahagia di dunia ini dan membalasnya dengan pahala di dunia dan akhirat." Demikian ucapan Syeikh As Sa'dy dalam risalah Al Wasailul Mufiidah lil hayati As Sa'idah.
Kebahagiaan sejati akan didapatkan oleh orang yang beriman kepada Allah dan merealisasikan keimanannya tersebut dalam amal perbuatannya. Merekalah orang-orang yang apabila mendapatkan ujian hidup merasa bahagia dengannya karena mengetahui bahwa semuanya datang dari Allah dan di belakang ujian ini ada hikmah-hikmah yang belum diketahuinya karena dirahasiakan oleh Allah sehingga menjadikan ia bersabar karenanya. Dan jika mereka mendapatkan kesenangan atau nikmat, mereka juga bahagia dengannya karena mereka mengetahui bahwa semuanya itu datang dari Allah yang mengharuskan dia bersyukur kepada-Nya.
Perhatikan hadits shahih berikut yang diriwayatkan oleh Imam Muslim: "Sungguh sangat mengherankan urusannya orang yang beriman, dimana semua urusannya adalah baik dan yang demikian itu tidak didapati kecuali oleh orang yang beriman. Kalau dia mendapatkan kesenangan dia bersyukur, maka yang demikian itu merupakan kebaikan baginya. Dan kalau dia ditimpa mudharat dia bersabar, maka itu merupakan sauatu kebaikan baginya."
Dalam upaya meraih kebahagiaan hidup, manusia terbagi menjadi tiga golongan. Pertama, orang yang mengetahui jalan tersebut yakni jalan menuju kebahagiaan dan berusaha untuk menempuhnya meskipun harus menghadapi resiko yang sangat dahsyat. Dia mengorbankan segala apa yang diminta oleh perjuangan tersebut meski harus mengorbankan nyawa.
Kedua, orang yang mengetahui jalan kebahagiaan yang hakiki tersebut namun dikarenakan kelemahan iman yang ada pada dirinya menyebabkan dia menempuh jalan yang lain dengan cara menghinakan dirinya di hadapan hawa nafsu. Merekalah orang-orang yang lebih memilih kebahagiaan yang semu daripada harus meraih kebahagiaan yang hakiki di dunia dan di akhirat.
Ketiga, adalah orang-orang yang sama sekali tidak mengetahui jalan kebahagiaan tersebut sehingga harus berjalan di atas duri-duri yang tajam dan menyangka kalau yang demikian itu merupakan kebahagiaan yang hakiki. Mereka siap melelang agamanya dengan kehidupan dunia yang fana dan siap terjun ke dalam kubangan api yang sangat dahsyat.
Dikutip dari Majalah Asy Syariah Edisi Perdana / I / Shafar 1424 H / April 2003 dengan sedikit perubahan.
Perhatikan hadits shahih berikut yang diriwayatkan oleh Imam Muslim: "Sungguh sangat mengherankan urusannya orang yang beriman, dimana semua urusannya adalah baik dan yang demikian itu tidak didapati kecuali oleh orang yang beriman. Kalau dia mendapatkan kesenangan dia bersyukur, maka yang demikian itu merupakan kebaikan baginya. Dan kalau dia ditimpa mudharat dia bersabar, maka itu merupakan sauatu kebaikan baginya."
Dalam upaya meraih kebahagiaan hidup, manusia terbagi menjadi tiga golongan. Pertama, orang yang mengetahui jalan tersebut yakni jalan menuju kebahagiaan dan berusaha untuk menempuhnya meskipun harus menghadapi resiko yang sangat dahsyat. Dia mengorbankan segala apa yang diminta oleh perjuangan tersebut meski harus mengorbankan nyawa.
Kedua, orang yang mengetahui jalan kebahagiaan yang hakiki tersebut namun dikarenakan kelemahan iman yang ada pada dirinya menyebabkan dia menempuh jalan yang lain dengan cara menghinakan dirinya di hadapan hawa nafsu. Merekalah orang-orang yang lebih memilih kebahagiaan yang semu daripada harus meraih kebahagiaan yang hakiki di dunia dan di akhirat.
Ketiga, adalah orang-orang yang sama sekali tidak mengetahui jalan kebahagiaan tersebut sehingga harus berjalan di atas duri-duri yang tajam dan menyangka kalau yang demikian itu merupakan kebahagiaan yang hakiki. Mereka siap melelang agamanya dengan kehidupan dunia yang fana dan siap terjun ke dalam kubangan api yang sangat dahsyat.
Dikutip dari Majalah Asy Syariah Edisi Perdana / I / Shafar 1424 H / April 2003 dengan sedikit perubahan.


